Idul Adha ala Pesantren!
Bagi anak-anak pesantren, Hari Raya Idul Fitri berarti harus tetap tinggal di asrama. Yep, no holiday and no day off for Idul Adha. Why? Well… mungkin sekolah enggak mau Pesantren gue sepi gara-gara anak-anaknya pada pulang. Karena kalau pesantren gue sepi, berarti siswa yang melaksanakankan qurban di pesantren juga tambah sepi. Sekolah, sebagai salah satu lembaga yang terpandang ,enggak mau dong, kontribusi untuk masyarakat dan daerah setempat-nya berkurang. Lagi pula memang daerah di kampung sekitar pesantren benar-benar memprihatinkan. Jadi wajar saja kalau qurban di pesantren gue, distribusinya akan tepat pada sasaran. Gue bakal certain ritual dan aktifitas-aktifitas anak-anak pesantren waktu Idul Adha. Pengalaman-pengalan yang mungkin enggak akan kamu dapatkan di sekolah negeri biasa. Well.. here we go! H -1 alias sehari sebelum hari raya, anak-anak akan dibagi per kelompok-kelompok yang diberi tugas untuk Takbiran! Anak-anak yang lagi takbiran. (gue yang di sebelah kiri paling depan tuh!) Nah, kamu bisa iat di foto aktifitas anak-anak (termasuk gue.. haha narsis) yang lagi pada takbiran. Menu untuk malam itu adalah kacang atom (yang langsung abis! Sialan) dan makanan2 kering. Sialnya tahun ini enggak ada kacang tanah kayak tahun lalu karena biasanya bikin kotor masjid! (haha.. padahal nikmat!) Ada juga yang bertugas buat mukul beduk! Nah biasanya gue paling suka ngebeduk. Soalnya paling rame dan paling berisik. Kegiatan takbiran ini berlangsung dari maghrib sampai subuh. Setelah subuh, semua siap-siap buat Shalat Ied. Tahun ini hewan qurban yang diamanatkan kepadada pesantren gue lumayan banyak. Ada sekitar 40 kambing dan 7 ekor sapi yang siap untuk di qurbankan. Well.. talking about goat, I just remember about the goat who probably had a sex disorientation! Haha.. gue enggak bercanda! Nih fotonya! Gue enggak tau apakah ada penjelasan ilmiah tentang hal ini. Tapi kayaknya setiap kali Idul Adha gue selalu melihat aktifitas seperti ini! Ternyata gaya bercinta seperti ini juga di hak patenkan oleh kambing. Jadi, mungkin "doggy style" yang kedengarannya udah pasaran, bisa diganti dengan "goat style". Aduh.. maaf2 jadi agak vulgar gini. Ayo kembali ke topic.. hehe. Seperti yang udah gue bilang, ada 40 kambing dan 7 ekor sapi yang tahun ini di qurbankan. Beberapa ada yang dikurbankan di Pesantren gue dan ada beberapa dikurbankan di daerah sekitar pesantren gue. Nah, karena ada penyelenggaraan kurban di sekolah gue akhirnya siswa-lah yang dibebankan (baca: di korbankan) untuk mengurusi berbagai kegiatan seperti nyiapin pemotongan, distribusi, dan bersih-bersih. Bersih-bersih-lah yang paling lama kerjaanya, paling berat: berat di tugas dan tanggung jawabnya, soalnya kalau enggak bersih dan masih menyisakan bau, nanti bakal di protes sama seisi sekolah, kemudian paling capek! Yang seru itu hari besoknya. Masing-masing angkatan sebelumnya udah patungan untuk beli kambing untuk tiap-tiap angkatan. Kambing-kambing ini sepenuhnya milik angkatan masing-masing. Jadi, nanti tiap-tiap angkatan harus ngurusin kambingnya masing-masing dari mulai pemotongan (untuk algojo, diserahkan ke kelas 3), pengulitan, pencacahan, masak, dan tentunya MAKAN!! Angkatan gue dibagi menjadi beberapa kelompok: Nih foto-fotonya Nah seksi masak adalah "The Special One!" karena kerjanya walaupun enggak bersimbah darah dan bisa santai (mungkin kecuali buat si Chef, kali ya? Haha) tapi keberhasilannya ditunggu-tunggu satu angkatan! Menu tahun ini benar-benar variatif dari tahun-tahun sebelumnya: Ditemani oleh setrikaan, jemuran yang gagal kering, ember-ember cucian, sepatu, dan tentunya CELANA DALAM Ok karena aktifitas setelah ini adalah makan, jadi gue sebagai fotografer juga harus ikutan makan! Sekian dulu post gue. Gue harap artikel ini bisa menghibur dan memberikan gambaran aktifitas anak pesantren waktu Idul Adha! Ok bye!!Nah, ini gue lagi ngebeduk! Haha narsis abis!
Inilah kambing-kambing yang terinspirasi oleh gaya hidup jaman sekarang!
Ini lah seksi pencacah! Coba di pesbuk, bisa di tag! Haha.. (karena lu pada nanya, gue ada di bagian kiri kedua dari belakang! Haha pede amat)
Barang bukti! (kok ada gergaji sih?)
Inilah sang Chef Gerry yang sedang melakukan tugasnya. Mungkin suatu saat dia bisa jadi Chef yang professional? Haha.. great job!
Ini adalah trik untuk membuat sate tambah empuk dan bau kambingnya ilang: rendam dengan coca cola! Keren kan! Penemuan nih! Haha
20.25 | Label: cacah daging, chef, gerry, gulai, idul adha, kambing, pesantren, rica-rica, sate | 0 Comments
Pesantren berarti solidaritas, kebersamaan, dan kekeluargaan
Pesantren berarti tinggal di asrama. Sebuah tempat yang mau tidak mau harus menjadi rumah singgah gue untuk beberapa bulan. Gue tekankan betapa pentingnya menganggap asrama sebagai sebuah rumah singgah selain rumah gue di Jakarta. Bayangkan, ketika sejak kecil kita sudah tinggal di rumah kita dan kemudian suatu ketika harus meninggalkannya dalam kurun waktu yang cukup lama, pasti ada suatu titik dimana kita tidak merasa nyaman dan ingin pulang. Itulah yang namanya Home Sick! Tapi, ketika kita sudah menganggap tempat kita tinggal yang baru sebagai rumah singgah kita, maka perlahan kita pasti dapat beradaptasi.
Ngomong-ngomong soal asrama, ada beberapa hal yang bakal kalian temukan di kehdidupan asrama, The Dormitory life, begitu gue menyebutnya (biar keren dikit). Di sinilah lu bisa bertemu orang-orang dari berbagai daerah dengan sifat yang berbeda-beda pula. Ada yang asik, pendiam, pemalu, gila, berisik, dan bahkan kadang-kadang menyebalkan! Enggak heran kalau tahun-tahun pertama kami di pesantren adalah tahun-tahun penuh konflik dan keributan.
Mungkin karena shock dengan kehidupan yang baru, sering kali temen-temen gue terlibat adu mulut hingga adu jotos! Mungkin dulu sewaktu kelas satu banyak dari kita yang shock karena harus bersosialisasi dengan komunitas yang sama sekali beda dan perbedaan kerap kali meinmbulkan konflik!
Lu bisa melihat tabiat asli seseorang jika lu udah hidup lama bersama orang tersebut! Apa lagi 24 jam lu ketemu sama tu orang, bayangkan 24 jam! Lu bakal tau siapa yang sering kentut dan siapa yang baunya yang bikin seolah-oleh septic tank muncul di asrama saking bangsat baunya. Lu bakal tau siapa yang pelit dan siapa yang paling royal. Lu bakal nemuin orang yang betah enggak mandi berhari-hari! Gue punya temen yang malas mandi sampai-sampai harus gue nasihatin kayak gini: “Hoy purba (nama disamarkan), mandi lah engkau sebelum engkaudimandikan!”, tapi malang, dia sampai sekarang belum bertaubat. Atau lu bakal nemuin, apa yang sering kami sebut sebagai: Raja Asrama. Raja asrama adalah yang “punya”-nya asrama. Jarang turun ke Masjid buat shalat berjamaah dan sering cabut dari pelajarannya. Pokoknya nempel sama asrama sampai bikin kerajaan. Rekor raja asrama di pengang oleh kakak kelas gue si-W yang selama 1 SEMESTER, bayangkan! Satu semester dia enggak turun ke masjid buat Salat Isya berjamaah! Wow..
Ada yang sok tahu, ada yang berisik, tapi ada juga yang diem banget! Kalau enggak salah gue pernah liat, hmm sebut saja si-Ngaaak! (karena kalau ketawa, ngaaak.. ngaaaak), selama seharian penuh enggak BICARA kecuali bacaan shalat, itupun hanya Allah yang tahu. Tapi buat juara berisik di pegang oleh si-Bibir! Sebut aja si bibir karena bibirnya berbanding lurus dengan keberisikkannya! Maksud gue, ukurannya, hehe. Anak-anak pernah mengaku mendengar si-Bibir KETAWA dari asrama namun terdengar hingga KE KELAS! Jarak dari asrama ke kelas kira-kira.. hmm 80 meter ada kali ya. Pokoknya sering juga di sebut, TOA berjalan.
Kita adalah kumpulan-kumpulan orang yang unique! Masing-masing punya ciri khas dan tabiat yang berbeda. Perlu solidaritas antar teman untuk bisa hidup damai dan tanpa konflik. Gue juga harus menganggap temen-temen gue sebagai keluarga gue karena gue tinggal bersama dengan mereka 24 jam sehari, 7 hari seminggu! Kita juga perlu toleransi, apa lagi sama anak yang kadang-kadang bikin kesel. Lagi enak-enaknya tidur, eh ada yang dateng main gitar. Pokoknya menghargai apapun kelebihan dan kekurangan mereka adalah modal untuk bisa dihargai.
Long Distance Relationship
Sekolah di pesantren kayak gini wajib hukumnya bagi yang mempunyai pasangan untuk berstatus LDR atau Long Distance Relationship. Bukan hanya sekedar LDR biasa dimana jarak merupakan masalah utama sebuah hubungan, di sekolah ini, bagi anak-anak yang terjun dalam LDR harus pintar-pintar membagi waktu hingga kadang di tuntut untuk melanggar peraturan.
Dengan dilarangnya hp di sekolah, berarti jalur komunikasi tinggal satu jalan yaitu melalui wartel sekolah. Perlu diketahui bahwa wartel ini Cuma punya 2 pesawat telpon! Kebayang bagaimana gue harus berebut telepon dengan “pejuang-pejuang” yang lain.
Dulu sebelum angkatan 11 datang, gue adem-adem aja make wartel, secara gue jarang punya saingan. Gue menyebut masa-masa kelas 2 sebagai “masa damai di wartel” karena gue dengan bebas bisa memonopoli telpon hingga 30 menit! Tapi semenjak angkatan 11 berjumlah 76 orang! Dan sebagian besar punya pacar, monopoli gue atas wartel mulai tergeser.
Sejak awal mereka menginjakkan kaki di sini, gue udah mulai was-was. Gue dengan kerennya mulai menghitung peluang gue untuk menelpon lebih dari 20 menit dan hasilnya sangat kecil! Anak-anak angkatan 11 ternyata hobby menelpon! Entah menelpon pacar atau keluarga. Pokoknya jam 7-8 adalah jam sibuk mereka. Gue Cuma bisa berharam jam 8 ke atas situasi udah mulai terkendali alias sepi. Tapi terkadang wartel bisa sangat sibuk sampai kang Opick (Direktur Koprasi sekolah, haha) mulai risih menunggu anak2 selesai menelpon, apa lagi kalau ada yang ngutang.
Dulu gue bisa dengan bebas dalam satu hari menelpon “si Kecil” dari jam 8 sampe jam 8.30. sekarang, jarang gue bisa telp lebih dari 10 menit
Untuk yang berani bawa HP, komunikasi bisa jadi lebih mudah. Namun, resiko hubungan itu terbongkar semakin besar! Oh iya, gue lupa bilang kalau pacaran sebenarnya dilarang oleh pihak sekolah. Jika ketahuan harus segera DI AKHIRI!! Haha. Berarti, LDR itu sendiri sebenarnya merupakan sebuah pelanggaran lho!!
Untuk urusan ketemuan, ini adalah hal yang paling langka! Apa lagi Si kecil dan gue “dobel” LDR-nya. Soalnya gue tinggal di
Untuk dinamikanya emang berat. Syarat sebuah LDR bisa terbangun, apa lagi dengan kondisi minim fasilitas seperti gue, harus ada kepercayaan yang kuat. Gue merasakan betapa pentingnya untuk percaya sama si kecil karena tanpa kepercayaan, semua bisa hancur. Yang paling penting adalah kita harus percaya bahwa pacar kita memang menyayangi kita. Namun, ketika kita jauh dari dia, kadang kita harus merelakan ia lebih asik berhubungan dengan teman-temannya. Gue sadar gue bukan apa-apa dibandingkan dengan teman-teman si Kecil. So, gue enggak akan ngelarang dia buat main dengan siapapun. Gue sadar siapapun yang sukses dalam LDR pasti mempunyai kedewasaan dan gue udah bertekat akan menjadi seseorang yang dewasa dan enggak bertingkah seperti anak sd lagi!
Majulah para pejuan cinta dari seluruh pelosok boarding dan pesantren se-Indonesia. Tanpa dinamika, cinta bakal BASI!! Ye... hha
07.39 | Label: cinta, hubungan, ldr, long distance relationship, pesantren | 2 Comments
School Without Any Skirt
There isn't any skirt in my school uniform!
why? karena siswa, eh maaf, santri disini COWOK semua!
Mungkin faktor "ketidak-adaan" cewek inilah yang membuat rutinitas di lingkunagn sekolah menjadi sangat membosankan. Bayangkan! Dengan rutinitas yang itu-itu aja, kita harus meihat jenis kelamin yang itu-itu juga!
Gue sering membayangkan di sekolah konvensional, dimana cowok dan cewek digabung dalam satu kelas, maka selalu ada alasan dan cara bagi cowok untuk menghapus kebosanan. Kalau jenuh dengan pelajaran di papan tulis, tinggal liat ke si-Meta yang aduhai! Apa lagi punya pacar satu kelas, kalau bosen tinggal berduaan deh! lah, nasib anak pesantren kayak kita gimana dong? liat kiri-kanan, kumis-kumsi juga!
Kalau tiap hari kita ngeliatin seorang cewek cantik sampe bosen saking seringnya, itu namanya wajar. Tapi, kalau tiap hari hanya ngeliatin cowok yang itu-itu melulu, bisa gila namanya! kalau suatu ketika ada seorang cewek yang rok seragamnya tersingkap dengan enggak sengaja, itu namanya rejeki buat cowok! tapi kalau liat cowok kedodoran celananya, sampai hafal MEREK celana dalamnya, itu eneg namanya!!!
Faktor inilah yang membuat anak-anak di sini pada cuek-cuek semua!! Bahkan ada beberapa yang sampai enggak peduli sama penampilan. Gue aja, jadi males merapihkan rambut sehabis mandi. Enggak peduli betapa ancur dan acak-acakannya rambut gue. Mau model belah tengah atau model enggak jelas. Sering kali gue merasa enggan untuk mempir ke cermin dan memoles rambut gue. hehe
Apa lagi dalam hal berbusana, bisa jadi lebih cuek lagi! Mungkin sewaktu kelas satu, gue masih ada care sama kerapian dan seserasian baju gue, tapi sekarang, semenjak kelas 3, gue jadi cuek banget dalam berpakaian, terutama baju seragam!
Semua kecuekkan atas penampilan selalu di dasarkan pada sebuah pernyataan:
"enggak ada cewek ini, santai aja!"
yah, begitu deh! sering gue merasa malas untuk bebenah diri agar terlihat sedikit lebih rapi karena gue pikir, nantipun enggak akan ada yang memperhatikan gue selain temen-temen gue, dan merekan kan cowok semua! haha
Tapi ketidak adaan ini menjadi keuntungan bagi kaum hawa itu sendiri. Jika ada cewek yang berkunjung ke pesantren gue, pasti akan sering diperhatikan oleh santri-santri di sini! hehe. itung-itung tebar-tebar pesona, boleh dong! haha. Dan dengan kondisi jarang melihat cewek (kecuali ibu guru dan ibu dapur) membuat siapapun cewek yang datang ke pesantren gue akan menjadi salah satu cewek tercantik di sini!!
So, bagi cewek yang mau datang ke sini, kami sangat rekomendasikan! haha
06.46 | Label: cewek, cuek, penampilan, pesantren | 0 Comments
